Langsung ke konten utama

Batasan ikhwan & akhwat dalam kehidupan sehari-hari | By Ade Ihdinayah

Batasan ikhwan & akhwat dalam kehidupan sehari-hari 
By Ade Ihdinayah 

Bismillahirrohmanirrohim 
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh 
Dalam penerapan muamalah kehidupan sehari-hari pasti kita juga dihadapkan dengan sebuah dilema. Salah satunya dalam bagaimana menjalankan hidup sosial. Karena manusia memang makhluk sosial yang antara satu dan lainnya saling berkaitan.

Dasar Hukum kita adalah al-Quran, Hadist, dan bagaimana penerapan dalam kehidupan sehari-hari atau kejadian "luar biasa" yang diterapkan dalam masyarakat kita bisa memahami dari para ulama. 

Terkadang kita ingin mencoba taat tapi ternyata ada beberapa hal yang membuat kita mau tidak mau memilih sebuah perkara diantara keburukan dengan cara mengurangi dan menghindarkan diri dari mudhorot yang paling berbahaya dan memilih mudhorot yang paling sedikit diantara perkara tersebut. Termasuk dalam berinteraksi dan memiliki ikatan dengan ikhwa utamanya dengan yang berbeda makhrom. 

Kali ini saya memilih untuk sharing dari hal-hal kecil yang tanpa sadar bisa berakibat besar dimasa depan. Saya akan mencoba menjelaskan beberapa kasus dalam kehidupan dan bagaimana menanggulanginya. Karena bagaimanapun saya memang kapasitasnya terbatas dan hanya sebagai penyambung lidah dari ilmu beberapa ulama sehingga bukan kapasitas saya yang menjelaskan "Tafsir" dari ayat al-Quran langsung ataupun hadist. 

Dalam penerapan muamalah ada beberapa hal yang bukan hanya "Status" yang dilarang tapi bisa saja perilaku atau tindakan itu juga hal yang tidak diperkenankan. Bahkan bisa menjadi cara setan menggoda insan tersebut supaya melakukan hal yang dilarang tanpa kita sadari. Karena bagaimanapun hubungan antara ikhwan dan akhwat ini terkadang ada sangkut pautnya dengan "perasaan" yang memang ini adalah Fitrah seorang manusia, tapi islam hadir untuk mengajarkan bagaimana meluapkan perasaan ini. 

Dalam hal-hal "Haram" atau "Halal" bukan kapasitas saya. Tapi insyaallah kita akan belajar bersama menganalisis mana yang seharusnya "dihindari" dan berusaha taat dengan hal-hal kecil yang dapat kita lakukan. 

Sekali lagi, bukan cara saya sebenarnya untuk mengatakan ayat tertentu ataupun hadist tertentu hingga detail karena itu bukan keahlian saya. Tapi insyaallah apa yang saya bahas ini pernah dibahas para ulama dan saya berniat untuk membahasnya dengan bahasa saya sendiri dan juga bagaimana saya mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Baik kita mulai. 

"Pernikahan" adalah hal yang dibenci setan. Karena benci status "Halal" inilah setan ingin menggoda kita manusia supaya kita bisa melakukan hal-hal kecil yang lama-lama menggiring perbuatan "Haram". Berawal dari hal-hal yang dianggap "Ah cuman..." 

Mengapa dikatakan bahwa penghuni neraka itu lebih banyak wanita? Banyak sekali ulama yang ikhwan akan mengatakan bahwa memang wanita ini baperan. Bahkan beberapa tahun yang lalu seorang Ustadz (Aih lupa) mengatakan bahwa yang menggoda Nabi Adam as supaya terlena itu bukan Setan, melainkan Ummi Siti Hawa ra yang beliau duluan lah yang tergoda duluan oleh setan. Wallahu alam bisawab .. 

Mengapa demikian? Karena Akhwat ini baperan dan ikhwan sangat lemah terhadap Akhwat. Hampir semua ulama sepakat hal ini walaupun terkait kisah Nabi Adam as dan Siti Hawa tidak semua menceritakan dengan sedetail itu. 

Bahkan kita bisa cek secara keseharian kita terutama zaman sekarang yang membahas banyaknya kemaksiatan terutama perzinahan zaman sekarang. Bahkan berawal dari status "pacaran" lama-lama jadi mengarah ke "prostitusi gratis" dengan dalih pelayanan untuk pasangan karena "takut putus." Yang pada akhirnya juga korbannya wanita. Dan lelaki ini pun tetap tak bertanggung jawab. Akhirnya terjadilah kasus "trauma laki-laki" dan dari sinilah menjadi awal banyaknya "Aku tidak butuh laki-laki" dan lantas menjadi wanita yang tidak menerima Qodratnya bahkan mengutuk ketidak adilan Tuhan. 

Padahal Allah berfirman:
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”(QS.An¬-Nuur:26).

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’ ayat 7)

Artinya semua keburukan yang terjadi itu sebenarnya terjadi karena kita sendiri. Dan bisa jadi juga ujian agar derajat kita naik dihadapan Allah. Dan kalau kita yakin kepada Allah dan ingin mendapatkan keridhoan Allah maka usahakanlah dengan cara yang baik. 

Sungguh indahnya islam, memang mengatur segalanya bukan hanya supaya manusia itu menjadi "Sejatinya manusia" tapi juga ingin mencegah kemungkaran dan kerusakan terjadi dalam hidup manusia itu sendiri. 

Mari kita bahas beberapa kasus dalam sehari-hari 

> Status "Sahabat" antara perempuan dan laki-laki. Apakah boleh? Iya boleh. Tapi batasan seperti apakah yang harus kita lakukan? 

Banyak yang mengaku "Sahabat" tapi mereka melakukan perbuatan yang tidak beda jauh dengan "Pacaran" bahkan dari intensifnya hal ini lama-lama tumbuh benih ini. Well salah satu kejadian ini terjadi dalam hiduo Aih dan semoga bisa jadi pelajaran bagi semua. 

Dalam hubungan "Sahabat" ini l, lebih baik jika kita memilih untuk mencari sahabat wanita yang memang cocok. Karena bagaimanapun wanita itu butuh "curhat" dan "sharing". Boleh bersahabat dengan yang beda mahrom tapi jangan sampai tidak beda jauh dengan pacaran bahkan dalam beberapa kasus Aih sampai menemukan berawal dari hal ini memicu secara tidak langsung perselingkuhan yang mengatas nama "Sahabat" bahkan kecemburuan antara pasangan. Ini banyak sekali status seperti ini dalam kehidupan nyata. Bahkan sampai ada kasus "Sahabat" yang sebenarnya memendam perasaan yang tidak diungkap. Bahkan banyak juga yang bertahan dengan status "Sahabat" karena takut "Kehilangan" atau "Takut canggung" Atau bahkan banyak sekali remaja yang mengatakan "cuman sekedar chating". Percayalah mungkin berawal dari sini setan bisa saja menghembuskan bibit-bibit penyakit hati. Sedekat apapun kita dan walaupun "sudah biasa" tetap dimasa depan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan "Ikhwan" ini tetap bukan mahrom kita. 


Nah beberapa kasus diatas juga pernah Aih alami dan alhamdulillah Allah sadarkan Aih bahwa terjadi dalam bersahabat dengan ikhwan itu tetap ada batasan. Sekali lagi, karena bagaimanapun mereka bukan mahrom dengan kita dan bisa ada "Perasaan". Dan jika timbul perasaan tersebut maka segeralah istigfar. 

Jadi hindarilah terutama curhat masalah-masalah pribadi yang bahkan tanpa kita sadari ikhwan ini lama-lama mengenali kita. Apalagi dipicu dengan ada juga niat akhwat ini yang ingin mendapat perhatian atau menarik simpati ikhwan ini. Percayalah beberapa ikhwan banyak sekali yang terpikat dengan prilaku akhwat-akhwat yang seperti ini. Dan ini juga bisa berlaku sebaliknya. Akhwat memang Fitrahnya "Baperan" dan yang dikhawatirkan adalah pelampiasannya tidak tepat. Inilah yang harus dicegah dari awal. 

Islam mengenal taaruf yang bahkan Taaruf itu ada perantara Orang Ketika dan sebaiknya yang sudah menikah. Karena banyak kasus yang "perantara" ini malah menikung. Apakah salah? Wallahu a'lam bisawab. Yang jelas kita hanya bisa berusaha menghindarkan diri dari kemungkinan terburuk. 

Bahkan, mungkin memang saat remaja "biasa saja" chat tanpa perasaan dan hanya sekedar curhat tapi percayalah ketika usia semakin bertambah dan ada harapan ingin "mendapatkan pendamping hidup" ini juga bisa menjadi cara-cara setan agar kita keluar dari zona aman. Jadi apa tujuan curhat dengan ikhwan ini? 

Lantas harusnya seperti apakah bersahabat? Batasi obrolan jangan yang terlalu pribadi. Apalagi melewati batas nyaman sampai kita sharing dan menjadi tertarik bahkan lama-lama ada kecenderungan. Percayalah pacaran juga seperti itu.

Karena kalau dipikir-pikir "pacaran itu ngapain ya?" Jujur yang bahkan bilang "pacaran yang sehat" saja itu juga chatingan yang memiliki perasaan dan kecenderungan bukan? Sedangkan ini dilarang. 

Maka beberapa ulama mengatakan "niat" itu bukan sekedar awalan tapi proses juga termasuk ke dalam niatan. Dimana jika tujuannya Allah maka caranya juga harus dengan cara yang baik. 

Dan lakukankah jika memang butuh. Usahakan jangan berdua minimal ada orang lain. Dan jika itu chattingan, maka usahakanlah tidak berkelanjutan yang jika bukan hal yang penting atau bahkan sampai hanya "penasaran" maka hentikanlah. Percayalah jika sudah ada perasaan "penasaran" tanpa sadar kita sudah ada kecenderungan khawatir lama-lama timbul perasaan lain. 

Karena yang dikhawatirkan oleh beberapa ulama yang mengambil tindakan "tegas" sampai bahkan berorganisasi pun tidak boleh dengan yang bergabung dengan yang bukan mahrom pun karena khawatir niat baik bercampur. 

Tapi kalau Aih mengambil yang mengusahakan tidak baper dan selalu luruskan tujuan. Dan jika ada kecenderungan maka Aih usahakan untuk pasrahkan ke Allah dan minta perlindungan ke Allah jika memang berorganisasi ataupun berteman dengan ikhwan. Karena kadang kita tidak tahu mana yang nafsu mana yang memang sinyal jodoh bukan? 

Maka coba kita cek diri kita, pun kalau dia jodoh apakah kita sudah siap? Maka cobalah Istikhoroh. Maka jika terlanjur ada perasaan tapi hanya sekedar nafsu maka kembalikan semua ke Allah. Jangan dibawa stress 😊. Yang harapannya Islam hadir bukan membebani tapi justru mengarahkan. Karena Allah tahu betul memang manusia itu memiliki perasaan nafsu ini. Karena bagaimanapun juga ini adalah ujian keimanan. 

“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (al- Ankabut :2 )

> Begitu juga dengan organisasi atau dunia kerja. Jika organisasi Islam maka usahakannya sebisa mungkin sesuai syariat agar dalam prosesnya kita mendapat keberkahan. Tapi jika bukan diantara orang-orang yang "Menjaga" maka usahakanlah agar "Hindarilah mudhorot yang terbesar" dan cobalah agar hal-hal yang benar-benar harus dijaga tidak terlupakan. Karena bagaimanapun berkarya itu harus dilakukan dan ilmu yang bermanfaat bisa saja kita dapatkan walaupun bukan dalam lingkungan syari. Karena ketika berada dilingkungan yang tidak islami dan kita mempertahankan diri untuk taat maka sebenarnya ini juga dakwah. Dan bisa jadi dengsn prinsip dan ketegasan kita itulah keberkahannya. Tapi sekali lagi kita harus pahami dulu kondisi. Jangan sampai karena kita merasa paham ilmunya lantas seperti mengajarkan materi kuliah untuk anak TK. Artinya coba kita ajak juga memahamkan mereka yang belum paham jika kita di lingkungan tersebut. Mereka merasa aneh wajar. Tapi kita buktikan bahwa dengan prinsip kita itu tidak mengurangi komunikasi kita.

> Manusia dapat berubah, terkadang saat kita berteman dengan ikhwan tersebut ilmu kita memang belum paham jadi kita anggap wajar hubungan seperti ini pada saat itu. Tapi kita tidak bisa menjamin apa yang terjadi dimasa depan karena tindakan kita. Dan bisa jadi pemahaman kita juga bertambah. Maka hindarilah berjanji atau "komitmen". Jika tujuannya Allah maka usahakanlah prosesnya juga sesuai tuntunan agar keberkahannya tetap didapatkan. Menahan "perasaan" itu lebih baik dibanding "bertanggung jawab" dengan sesuatu yang diluar kehendak bahkan memicu murkanya Allah. 

> Percayalah jodoh terbaik diberikan oleh Allah pun itu termasuk ujian ketauhidan juga. Bagaimana "percaya kepada Allah" ini sudah seperti kita dalam pelelangan. Yang bisa saja semakin berat ujiannya maka akan semakin tinggi harga yang akan diberikan. Maka dalam prosesnya sebenarnya Islam telah mengatur berbagai proses dan tatacaranya. Terkadang yang menjadi hambatan bagi kita muslimah adalah perasaan "Ingin diperhatikan" dan "menyayangi" yang dilampiaskan pada tempat yang tidak tepat. Godaan ini bisa terjadi atau dilampiaskan dengan pacaran atau iya mungkin tidak pacaran tapi suka laki-laki yang "Belum halal" bahkan "Kafir" dengan rela berkorban yang bahkan lebih parah dengan orang yang pacaran. Atau bahkan tanpa sadar kita memberikannya kepada "ikhwan" yang kita pikir itu hanya sekedar kepedulian tapi ternyata berlebihan.

> Beberapa laki-laki itu bisa melampiaskan kebutuhan "diperhatikan perempuan" bukan hanya dari perempuan yang mereka suka. Bahkan wanita yang mereka tidak kenal sekalipun jika wanita ini mewarkan juga bisa. Termasuk lewat "chattingan" lewat sikap "baik" dll. Bahkan ada beberapa ikhwan yg memang baik ke semua akhwat sekedar adab. Tapi sayangnya beberapa akhwat anggap ini adalah hal yang special dan penuh harapan. Karena sejatinya lelaki yang baik itu mereka yang bisa menahan diri dan benar-benar berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan tahu batasan mana saja yang seharusnya tidak dilakukan kepada akhwat yang bukan makhromnya. Maka keliru kalau ada yang mengatakan "Ingin pacaran dengan cowok soleh" 😅. Atau akhwat-akhwat yang terpancing dengan ikhwan yang katanya menjaga diri tapi intensif dengan Akhwat. 

Jujur dulu waktu Aih baru-baru mengenal bagaimana seharusnya berteman dengan ikhwan yang sesuai syariat banyak sekali ikhwan yang Aih anggap "Kok cuek banget sih" tapi setelah sekian tahun Allah pahamkan, oh ternyata memang itulah cara mereka menjaga diri. Dan akhwat pun demikian. Usahakanlah tegas dengan ikhwan. Jangan khawatir "Takut merusak silaturahmi" atau "Gak tega." Akhwatfillah yang solehah. Ikhwan yang baik dan paham betul batasan justru akan paham ini. Jika mereka serius pasti tidak mau main-main. Dan kalaupun mereka tidak paham maka kita jelaskan. Dan jika masih mancing-mancing maka cuek. Jangan sampai jika mereka "Takut dianggap judes". TIDAK !!! Atau bahkan tarik ulur, dia dulu agresif dan setelah dia menjauh kita yang baper. Hati-hati dengan hal seperti ini Akhwatfillah. 

Sekian akhwatfillah, semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DUNIA MUSLIMAH : Wanita Terkemuka Ummu Salamah

╔🍀 ```Dunia Muslimah``` 🍀╗ 🧕🏻 PJH : Ukhti Arifka Khusnayaini 📜 Wanita Terkemuka Ummu Salamah Sebelumnya, ia bersuamikan Abu Salamah. Seorang laki-laki yang istimewa. Laki-laki yang pertama-tama memeluk Islam dan menyambut seruan Nabi untuk berhijrah. Saat sang suami wafat, ia beristirja’ (ucapan, innalillahi wainalilahi roji'un) dan memohon ganti yang lebih baik dari sang suami. Walaupun saat itu ia bingung siapa yang lebih baik dari suaminya. Tapi keyakinannya mendahului rasa ragu yang menghampirinya. Ia tetap ucapkan kalimat itu dan Allah Maha Benar akan janji-Nya. Ia dilamar oleh Rasulullah Saw. Ia adalah Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Amer bin Makhzum. Lahir 24 tahun sebelum hijrah dan wafat pada tahun 61 H. Ketika Abu Salamah wafat, aku beristirja. Dan berdoa, “ Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini. Dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya.” Setelah itu, ...

One Day One Hadits, Mencari Tau Keutamaan Hadits Jabir Bin Abdillah

╔🍀 ```ONE DAY ONE HADIST``` 🍀╗ 🧕🏻 _*PJH : Ukhti Lily Anggriani*_ 📜 _*Mencari tahu keutamaan hadist*_ Lafaz Hadits عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ: (( بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى )). “Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Saya menghadiri shalat idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku” Takhrij Hadits Hadit...

Para Pengurus Sahabat Hijrah Muslimah : Yuk Langsung Dicek Mus

Assalamualaikum para muslimah Indonesia. Pada kesempatan kali ini kita akan membagikan para pengurus Sahabat Hijrah Muslimah (SHM) Setelah pada postingan sebelumnya tentang Profil Sahabat Hijrah Muslimah . Biar tidak lama-lama yuk kita simak dibawah ini : STRUKTUR KEPENGURUSAN SAHABAT HIJRAH MUSLIMAH Pembina dan Founder Nama : Bq. Lily Anggriani Wahyuningsih S.Pd Alamat : Dompu-NTB Hobi : Membaca Dan Menulis No HP : 082340356030 Instagram : lily_anggriani_16 Email : anggriani16.fis@gmail.com FB : Anggriani Ishak Al Qathani Kampus : UIN Mataram Pengalaman Hidup : Founder Sahabat Hijrah Muslimah, TOP 5 Duta Pariwisata Kab. Dompu 2009, Duta UIN Mataram, Duta Perpustakan FTK UIN Mataram, Penerima Beasiswa Prestasi UIN Mataram, Juara 2  Mubaligah Porseni UIN Mataram, Juara Harapan 1 Lomba Pebuatan Alat Peraga Fisika Sepulau Lombok 2018, Volunteer Sahabat Muda Mataram, Komisi Hukum dan Perundang-undangan Senat Mahasiswa UIN Mataram 2018/2019, Bendahara Umum HMPS Prodi Fisik...