🧕🏻 PJH: Ukhti Arifka Khusnayaini
📜 Setegar Siti Hajar
Siti Hajar merupakan istri kedua dari Nabi Ibrahim As. Melalui Siti Hajar juga, Nabi Ibrahim As memiliki buah hati dengan akhlak mulia yakni Nabi Ismail As. Sebelum menikah dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim telah menikah dengan Siti Sarah. Sayang, pernikahannya dengan Siti Sarah tak kunjung memberikan buah hati di keluarganya.
Siti Sarah lantas meminta Nabi Ibrahim untuk menikah lagi. Awalnya, Nabi Ibrahim menolak permintaan istrinya karena baginya hanya Siti Sarah wanita yang ada di hatinya. Namun Siti Sarah bersikeras meminta Nabi Ibrahim menikahi wanita lain dan berharap dari pernikahan tersebut sang suami mendapatkan keturunan.
Dengan berat hati namun tetap menyerahkan segalanya kepada Allah Swt, Nabi Ibrahim memenuhi permintaan istrinya untuk menikah lagi. lalu mempersunting Siti Hajar, yang tidak lain budaknya sendiri. Dari pernikahannya dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim dikaruniai buah hati bayi laki-laki tampan yang diberi nama Ismail.
Kelahiran Ismail ini rupanya membuat Siti Sarah merasa cemburu. Wanita itu meminta sang suami untuk membawa Siti Hajar ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana Siti Sarah tak lagi bisa menemukan Siti Hajar dan buah hatinya. Atas kecemburuan istri pertamanya yang begitu menggebu-gebu, Nabi Ibrahim memutuskan untuk membawa Siti Hajar ke tempat yang jauh menuju Baitul Haram. Siti Hajar bersama Ismail buah hatinya dibawa menuju ke suatu lembah yang tiada rumput maupun tumbuhan sekali pun di sana. Tak ada juga air atau tanda-tanda kehidupan di sana.
Setelah berada di atas lembah, Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya. Sebuah riwayat juga menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar meski wanita tersebut menangis dan terus memanggil namanya.
Saat Nabi Ibrahim tak lagi kelihatan, Siti Hajar memandang semua wilayah di lembah, kosong, gersang dan sangat panas. Wanita berhati mulia ini pun berlari dari bukit Shafaa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali untuk mencari perbekalan dan berharap bertemu sufi yang akan membantunya. Sayang, ia tidak menemukan apapun.
Di tengah kelelahan, kebingungan juga kegelisahan yang menyelimuti hati dan pikirannya, Allah memberikan mukjizatNya. Dari bawah kaki Ismail kecil yang sedang menangis kehausan, muncul sumber mata air. Ia mengatakan, ‘’Zumi, zumi!’’ Mata air itu kemudian kini dikenal sebagai Zam Zam.
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
(Al Baqarah :158).
Siti Hajar adalah sosok yang begitu tegar juga cerminan sebagai seorang istri yang patuh pada suaminya. Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah Siti Hajar?
Jawab yuk shalihah, boleh mengutip dari link dakwah _(melampirkan link nya yaa)_ ☺
🟣 Jawaban tentang dunia muslimah/diskusi/share artikel ditutup pukul 22.00 WIB 📵
╚═〰🍀〰〰〰🍀〰〰〰🍀〰╝
Komentar
Posting Komentar